Make your own free website on Tripod.com
 

 Gejala Sosial , Pengalaman dan Kaedah Pembenterasannya  
 
HARUN HJ.SARAIL
JABATAN KAJI SOSIAL
MAKTAB PERGURUAN SANDAKAN
SABAH.
 
Kertas Kerja ini disampaikan dalam Seminar Gejala Sosial: Isu Dan Cabaran Nasional
Anjuran: Jabatan Belia & Sukan (P) Negeri SabahDengan Kerjasama Angkatan Belia Islam Malaysia
(ABIM) Cawangan Sandakan di Dewan Serbaguna
SM St.Cecilia Sandakan 1997

 

MUKADDIMAH

Masalah Sosial Hari ini merupakan masalah yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat kerana masalah sosial dan budaya merupakan "pengalaman langsung" yang dapat diamati, dinikmati, dirasai dan dialami dalam masyarakat itu sendiri. Oleh kerana masalah sosial merupakan masalah masyarakat maka perkara penting yang harus diketahui ialah gaya atau corak kehidupan yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri. Kertas kerja ini akan membahas tiga aspek yang saling berkaitan, pertama, tentang arus modernisasi yang melanda masyarakat kita kini dan akan datang yang kadang-kadang disebut sebagai masyarakat industri, pasca industri, teknetronik, informasi dan pasca modern dengan mengambilkira beberapa pandangan tokoh futurlog dan kaitannya dengan masalah-masalah sosial yang diakibatkan oleh dampak modernisasi.

Kedua, tentang tema pokok seminar pada hari ini iaitu gejala sosial. Secara bahasa kata "gejala" merupakan suatu indikator , tanda-tanda atau alamat sedangkan apa yang kita alami dewasa ini bukan lagi suatu gejala sosial tapi lebih kepada "masalah sosial" yang semakin serius.Istilah gejala sebenarnya lebih kepada suatu indikator atau mukaddimah kepada suatu masalah yang lebih besar yang akhirnya akan menimbulkan penyakit sosial yang serius tetapi media massa elektronik atau cetak lebih cenderung menggunakan istilah gejala sosial untuk menjelaskan perilaku sosial yang menyimpang. Dengan demikian harus dijelaskan yang mana satu gejala sosial dan yang mana satu masalah sosial. Apakah pelacuran, lepak, bohsia, bohjan, buang anak, judi sebagai suatu gejala sosial atau masalah sosial? Walau bagaimanapun kertas kerja ini tidak bermaksud untuk membahas masalah semantik di atas, ada baiknya kita serahkan kepada ahlinya. Dalam konteks ini penulis mengunakan kedua-dua istilah tersebut tanpa membuat klasifikasi.

Ketiga , tentang kaedah pembenterasan yang saat ini berbagai pihak kerajaan maupun NGO telah menggunakan bermacam-macam pendekatan yang secara on-paper sangat ideal tetapi pada hakekatnya gejala sosial ini semakin hari semakin bertambah.

 

Perubahan Sosial Masyarakat Malaysia: Memasuki Dunia Internet!

Arus modernisasi secara besar-besaran yang melanda dunia pada hari ini juga mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat Sandakan khasnya. Kita sekarang sedang bergerak menuju ke arah suatu revolusi global umat manusia. " Kita sedang berubah. Bukan saja dalam lembaga-lembaga kita, dalam kenderaan yang kita beli, dalam baju yang kita pakai tetapi juga dalam perilaku kita sebagai manusia. Premis pokok dari Revolusi Komunikasi ialah bahawa ledakan komunikasi mutakhir - komputer, satelit, disc, microprocessor dan jasa radio serta telephone baru - nampaknya sedang mengubah karakteristik lingkungan manusia." Tulis Frederick William dalam The Communication Revolution. Perubahan secara besar-besaran melanda setiap aspek kehidupan kita, pada saat ini manusia mempunyai gaya hidup yang sama, dunia semakin kecil, informasi terbuka luas. Apa yang berlaku di dunia sebelah Barat dapat kita rasakan dan kita nikmati di dunia sebelah Timur. Inilah apa yang disebut oleh John Naisbitt dan Patricia Aburdance dalam Megatrends 2000 sebagai globalisasi yang digambarkan sebagai "manusia mempunyai gaya hidup yang sama, dunia tanpa batas atau global village."

Williams menyebut perubahan itu sebagai revolusi, kerana perubahan yang semakin lama semakin drastik. Manusia pertama muncul kira-kira 36,000 tahun yang lalu. Diperlukan waktu 12,000 tahun sesudah itu untuk menemukan cara melukis pada dinding gua . Tidak ada penemuan teknologi komunikasi selama 18,000 tahun lagi. Pada tahun 4000 SM ditemukan tulisan yang pertama. Pada tahun 1000 SM manusia mengenal abjad untuk pertama kali. Percetakan ditemukan pada tahun 1453 M. Mulai tahun 1900 M terjadilah runtunan penemuan komunikasi yang menakjubkan. Selama 90 tahun terakhir ini manusia telah menciptakan teknologi komunikasi yang jauh lebih banyak dari apa yang diciptakannya selama 360 abad sebelumnya. Perubahan masih terus berlangsung dengan akselerasi eksponensial. Apa yang bakal terjadi pada tingkahlaku manusia menghadapi revolusi dahsyat ini?

Teknologi komunikasi menghilangkan batas ruang dan waktu. Peristiwa yang terjadi di seluruh dunia mempengaruhi reaksi kita. Kita ikut terharu menyaksikan pembunuhan di Bosnia, tragedi tanah runtuh di jalan susur ke Genting Highlands dan tragedi ribut Greg di Keningau. Kita merasa bangga bila menyaksikan rakyat Malaysia berjaya menawan puncak Everest. Kita merasa cemas dan tegang menyaksikan perlawanan bola sepak antara Sabah dengan Negeri Sembilan di Stadium Paroi .Kita merasa panas ketika melihat Madonna beraksi di bumi sebelah Barat.

Jaringan telekomunikasi - telephone, telexs, faksimile , televideo, e-mail, internet, teleconference - secara eksponensial memperbanyak frekuensi kontaks kita. Kita dapat berhubungan dengan lebih banyak orang pada lebih banyak tempat dengan waktu yang lebih singkat daripada yang dilakukan oleh datuk nenek kita . Kita boleh berhubungan dengan pendaki Everest melalui E-mail dalam masa yang sangat singkat dan sangat murah. Dua orang yang tinggal di belahan bumi yang berbeza dapat ber"couple" dan bahkan menikah melalui telephone.

Akibatnya bangsa-bangsa secara ekonomi, sosial dan kultur menjadi interdependen. Apa yang terjadi di BSKL mempengaruhi para peniaga di Pasar Sandakan. Fesyen baru diperkenalkan hari ini di Paris (melalui Fashion File TV3- misalnya!) pada esok harinya sudah dipakai oleh remaja kita di Wisma Sandakan atau di Pasar Sim-Sim. Pertukaran informasi menyebabkan meluasnya perubahan yang terjadi , seluruh aspek kehidupan kita terpengaruh - keluarga, perkerjaan, pendidikan, rekreasi bahkan kehidupan beragama. Banjir informasi "over-loading" dapat menjadi sumber stress yang kronik, penyebab penyakit adaptasi (disease of adaptation).

Gejala yang diceritakan di atas didasarkan pada trend-trend masyarakat industri Barat dan sebelumnya mereka telah melalui tahap-tahap sejarah yang bersambung - agriculture, industrial dan pasca industri. Kebanyakan bangsa-bangsa di dunia ketiga , Malaysia misalnya sampai ke alam "industri" dan "pasca-industri" sekaligus, melalui proses yang lebih cepat sehingga terjadilah lompatan histori yang selalu kita sebut sebagai "pembangunan". Dalam keadaan seperti ini beban psikologi lebih berat. Masuknya teknologi komunikasi yang tidak seimbang akan menimbulkan konflik antara yang kaya dengan yang miskin informasi, antara masyarakat bandar dengan luar bandar. Keresahan sosial akan meledakkan kejahatan, kekejaman, tindakan kekerasan, vandalisme, dunia entertainment yang tak tentu arah, jenayah dan masalah-masalah sosial lainnya.

 

Modernisasi bukan Westernisasi

Perubahan sosial dan budaya yang melanda masyarakat Sabah akibat dari arus modernisasi telah meresap ke dalam kehidupan kita yang bukan sahaja dapat kita saksikan secara mata kasar (materi) tapi juga telah meresap ke dalam aspek mental dan spiritual masyarakat kita pada umumnya. Masyarakat Sabah yang dilahirkan di Terusan Sugut kebingungan menghadapi arus modernisasi yang melimpah ruah sehingga tidak tahu arus apa yang melanda dan gaya apa yang harus diikuti, gaya rambut ala Micheal Jaksonkah atau gaya Ronaldo? Gaya Mariah Careykah atau Demi Moore? Mereka meminjam istilah Alvin Tofler telah mengalami "culture shock" atau kejutan budaya.

Konsep kemodernanan kini disalahertikan. Bagi mereka apa sahaja yang datang dari dunia Barat merupakan lambang kemajuan alias kemodernan tetapi apa yang datang dari dunia sebelah Timur dianggap sebagai kampungan alias kemunduran. Bagaimana "image" modern yang umum kita temukan dalam anggapan masyarakat kita?

Kemodernan selalu diidentikkan dengan Barat sehingga modernisasi bagi mereka adalah westernisasi. Tepat sekali apa yang digambarkan oleh Sidi Gazalba dalam bukunya "Modernisasi Dalam Persoalan, Bagaimana Sikap Islam?". Dari segi sosial masyarakat sekarang berfahamkan individualisme. Mereka hidup bernafsi-nafsi. Hubungan dalam keluargapun semakin rapuh, anak-anak dan orang tua memilih cara hidup sendiri. Dalam konteks keagamaanpun masyarakat sekarang pada dasarnya mengaku beragama tetapi dalam praktek kehidupan nampaknya kebanyakan kita berfaham agnotismus iaitu suatu kepercayaan "percaya tidak kepada Tuhan, tidak percayapun tidak, beragama tidak, tidak beragamapun tidak". Banyak orang yang mengaku Islam tetapi dalam perilaku kehidupannya langsung tidak mencerminkan keislamannya (tapi anehnya mereka akan marah apabila dituduh tidak Islam).Sekali lagi penulis tekankan bahawa arus modernisasi telah mengubah cara hidup kita, individu, keluarga dan masyarakat. Dari kehidupan yang semakin canggih ini telah melahirkan masalah sosial yang kronik yang dapat kita rasakan dari Sabah hingga ke Perlis

 

Masalah Sosial Hari Ini

Rogol

Sejak tahun 1993 hingga 1995 polis sudah menyiasat 5,013 kes kesalahan seksual dengan 1,050 atau 20.95 % daripadanya dapat diselesaikan. Dari segi taburan kaum pula 809 perogol berbangsa Melayu, 122 Cina, 65 India, 54 lain-lain.. Pelbagai kesalahan seksual tersebut termasuk merogol, mencabul kehormatan atau keinginan di luar tabii'. Daripada jumlah itu 680 orang didapati bersalah sementara 370 lagi bebas dari tuduhan termasuk atas sebab kekurangan bukti. Dari hasil kajian oleh Prof.Madya Dr.Norani Mohd.Salleh, kesan negatif itu kebanyakannya akibat perubahan gaya hidup dalam masyarakat modern dan status wanita yang berubah menjadi lebih bebas bergaul sementara kebingungan golongan belia dalam menentukan identiti hidupnya. (Lihat Berita Harian, 19 November 1996) atau menurut istilah Dr.Kassim Ahmad generasi muda sekarang ini sudah kehilangan idealisme. Perhatikan stastik kes rogol di Malaysia yang nampaknya perlu diambil tindakan tegas secepatnya:

 

KES ROGOL DAN MENJATUHKAN MARUAH DI MALAYSIA
1991 hinga 1995
 
1993
1994
1995
 
BANGSA
Sek.376/Sek.354
Sek.376/Sek.354
Sek.376/Sek.354
Jumlah
Melayu
511/363
619/403
645/514
30
Cina
144/156
95/123
139/182
8
India
79/78
66/61
97/82
4
Lain-lain
145/87
132/82
124/82
6
Jumlah
879/684
912/669
1,005/864
50
MANGSA        
Bawah 16 tahun
465
537
604
16
Lebih 16 tahun
414
375
401
11
JUMLAH
879
912
1,005
27
 

(Sumber: Berita Harian, 19 November 1996)

Berita terakhir di Malaysia, perogol yang dikategorikan sebagai rogol sumbang mahram dan rogol kanak-kanak di bawah 12 tahun akan dihukum mati, penjara seumur hidup dan tidak kurang 10 kali sebatan (Buletin Utama - TV3 13.6.1997).

 

Prostitusi

Secara ilmiah prostitusi atau perzinahan ialah "hubungan seks di luar pernikahan". Ada tiga jenis perzinahan iaitu hubungan seksual premarital, hubungan seksual ekstramarital dan prostitusi. Hubungan seksual premarital adalah "hubungan yang dilakukan oleh anak-anak muda / remaja sebelum pernikahan." Di Malaysia gejala ini sudah sampai pada tingkat yang membimbangkan. Pergaulan bebas, pengaruh media pornografis, filem lucah, khalwat, kerja maksiat GRO telah mendorong para remaja untuk melakukan hubungan premarital. Kehamilan yang tidak direncanakan (unwanted pregnancy) telah mengakibatkan kerosakan pada emosi, pendidikan, hubungan kekeluargaan , keadaan ekonomi, kesihatan dan keturunan.

Menurut kajian Lembaga Penduduk dan Pembangunan Keluarga Negara Malaysia (LPPKN) kajian kualitatif 1996 mendapati 50% remaja berusia antara 13 hingga 15 tahun pernah membaca bahan lucah, 44% remaja lagi pernah menonton video lucah manakala lebih 80% remaja berusia 13 hingga 18 tahun telah terdedah kepada bahan-bahan lucah. Sekarang ini bahan lucah boleh didapati dalam bentuk pita video, filem. Laser disc, vcd, bpf (bahan publisiti filem) dan yang terkini melalui CD-ROM dan Internet. Pada tahun 1996 sejumlah 92,813 rampasan dibuat oleh Unit Penguatkuasa Lembaga Penapisan Filem Malaysia dari berbagai bentuk tersebut (lihat Utusan Malaysia, 20 April 1997). Sudahkah anda memastikan anak-anak anda bebas dari pengaruh bahan-bahan lucah?!!!!

Trend anak-anak gadis Melayu khususnya yang di bawah umur sangat berminat bekerja sebagai GRO kebelakangan ini jika tidak disekat akan merupakan suatu masalah sosial yang paling kritikal pada masa depan. Pada tahun 1996, seramai 348 orang gadis bawah umur ditangkap kerana terlibat dengan pekerjaan ini berbanding dengan tahun 1995 sebanyak 301 dan tahun 1994 sebanyak 325. Di Sabah sahaja pada tahun 1996 sebanyak 30 orang telah dikenal pasti, rangking ketiga terbanyak di seluruh Malaysia. Mungkin salah satu tarikan utamanya adalah jumlah pendapatan yang lumayan. Sebahagian besar di antara mereka mampu memperolehi pendapatan antara RM300 hingga RM800 semalam. Kalau kita kira pendapatan minimum RM300 sehari sebagai ukuran, maknanya mereka mampu memperolehi RM9,000 sebulan tanpa perlu membayar cukai pendapatan.

Di sinilah gadis modern kembali menghadapi dilema, di samping memberikan emansipasi dunia modern, juga menampilkan wanita sebagai objek seksual. Mereka dipamerkan untuk menarik pelanggan. Mereka diminta tersenyum untuk melayan dan merayu pelanggan sehingga timbul ungkapan "business without women is nothing". Mungkin cukup beralasan apabila Dr.Masjuki Mohd. Musuri , setiausaha Kerja Pertubuhan Kebajikan dan Dakwah Islamiah Malaysia (Perkida Malaysia) mengusulkan supaya pekerjaan GRO diharamkan bagi wanita Islam.

 

Virus HIV, Penyakit AIDS

Protstitusi atau pelacuran nampaknya merupakan suatu business yang menggiurkan tetapi pada hakikatnya adalah perbudakan perempuan di zaman pasca modern ini. Robert D.Lauer dalam Social Problems and the Quality of Life menyebutkan bagaimana pelacuran merosak kualiti hidup. Pertama, pelacuran merusak kesehatan. Di Malaysia sejak tahun 1986 hingga 1997 sebanyak 19,385 orang di negara ini telah dikesan sebagai pembawa HIV dan dari jumlah itu 597 disahkan menghidap AIDS, 518 daripadanya telah meninggal dunia. Dari jumlah itu 95% adalah lelaki dan 72% adalah orang Melayu dan 79% daripadanya adalah penagih dadah. Tahun 1996 ada 249 kes AIDS dan 33% daripadanya dijangkiti melalui hubungan seks (lihat Utusan Malaysia 24 Mac 1997). Daripada 30 buah negara di rantau ini , sehingga September 1996 Malaysia menduduki tempat ke lima bagi kes AIDS dengan 476 kes selepas Australia (6,718), Jepun (1,312), New Zealand (557) dan Vietnam (500). (Utusan Malaysia , 1 Desember 1996)

 

Klasifikasi Jangkitan HIV & AIDS di Malaysia ( 1985- 31 Mei 1996)
 
Faktor Klasifikasi Jumlah Terkumpul
Jangkitan HIV Kes AIDS
Bilangan Peratus Biangan Peratus
Jantina
Lelaki
15,317
95.56
386
92.79
 
Perempuan
712
4.44
30
7.21
 
Jumlah
16,029
100.00
416
100.00
Umur
13
38
0.24
10
2.40
 
13-19
684
4.27
3
0.72
 
20-29
7,512
46.87
111
26.68
 
30-39
5,891
36.75
193
46.39
 
40-49
1,105
6.89
58
13.94
 
50
209
1.30
34
8.17
 
Tidak diketahui
590
3.68
7
1.68
           
Klasifikasi Jangkitan HIV Kes AIDS
Bilangan Peratus Bilangan Peratus
Transmisi
mengikut
faktor risiko
Homoseksual
&
Biseksual
 
117
 
0.73
 
29
 
6.97
 
Penagih Dadah
12,235
76.33
195
46.88
 
Pelacur
262
1.63
12
2.88
 
Heteroseksual
456
2.84
99
23.80
 
Pemindahan darah &
Produk Darah
 
33
 
0.21
 
13
 
3.13
 
Tidak diketahui
2,900
18.09
61
14.66
 
Jumlah
16,029
100.00
416
100.00
 

(Sumber: Cawangan Aids/STD, Kementerian Kesihatan Malaysia)

dalam majalah Jelita, September 1996

Data di atas menunjukkan "gejala sosial" seperti homoseksual, biseksual, najis dadah, bohsia, bohjan, pelacuran, seks bebas merupakan saham terbesar jangkitan HIV dan penyakit AIDS.

Kedua, prostitusi, menumpulkan perasaan seksual para pelakunya.Hasil kajian yang dilakukan oleh Kate Millet dalam, Women in Sexist Society, mengungkapkan pengakuan seorang pelacur katanya, "Prostitusi bukan sahaja merendahkan kaum perempuan tetapi juga merendahkan seks. Sering kali saya tidak memahami pelanggan saya, saya tidak mengerti apa yang mereka perolehi kerana saya merasa tidak memberikan apa-apa.". Ketiga, para pelacur sering mengalami gangguan jiwa, mudah bunuh diri atau kecanduan najis dadah.Dunia mereka selalu diidentikan dengan dunia hitam. Dari sinilah mulanya kes pembuangan bayi yang semakin meningkat dari 36 kes pada tahun 1989 kepada 55 kes pada tahun 1996. (Lihat artikel penulis yang disiarkan dalam Berita Harian pada 29.12.1995 bertajuk "Pembuangan bayi dari kaca mata Islam" dilampirkan.)

Alkoholisme

Satu lagi masalah sosial yang serius adalah alkoholisme. Dalam dunia "modern" masalah ini merupakan masalah yang dihadapi hampir oleh setiap negara yang kebanjiran budaya modernisme ini. Menurut Musthafa Muhammad dalam Al-Targhib wa Tarhib 3:257 "Minuman keras menjadi penyebab kemaksiatan, kerana orang yang meminumnya akan kehilangan akal dan kesedaran lalu melakukan berbagai kemaksiatan, mempraktekkan semua dosa, meruntuhkan kehormatan dan mengantarkan kepada kejahatan dan kezaliman."

Alkohol telah dihubungkan dengan hampir setengah jumlah kematian dan luka-luka parah yang diakibatkan oleh kemalangan jalanraya setiap tahun dan kira-kira 50% dari semua pembunuhan, 40 % dari semua perampokan, 35% dari semua perogolan dan 30% dari semua peristiwa bunuh diri. Kira-kira seorang dari setiap tiga orang yang ditangkap di Amerika di akibatkan oleh minuman keras. Kerugian ekonomi akibat alkoholisme diperkirakan lebih dari 25 Billion dolar setiap tahun, kebanyakkannya kerugian industri kerana tidak hadir kerja, rendahnya efisiensi kerja dan kemalangan serta biaya yang dikeluarkan untuk merawat orang-orang yang kecanduan minuman keras. Umur pecandu alkohol adalah 12 tahun lebih pendek daripada umur orang yang tidak minum alkohol dan alkohol berada dalam peringkat ketiga dari penyebab kematian di Amerika Syarikat sesudah penyakit jantung dan kanser (statistik ini didasarkan pada US News and World Report, April 1975). Setiap tahun terjadi kenaikan 200,000 kes alkoholisme di Amerika sehingga angka di atas menjadi lebih tinggi pada tahun 1997 sekarang ini.

Banyak usaha telah dilakukan untuk menangani kes alkoholisme dan selalu menemui kegagalan, hanya dalam negara-negara Islam kes ini relatif dapat diatasi, seperti di Malaysia yang mana kita seharusnya merasa bersyukur....

Perjudian

Menurut agama Islam minuman keras dan perjudian digunakan syaitan untuk menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara anggota masyarakat (surah al-Maidah ayat 91). Pada hakekatnya tidak ada suatu agamapun yang menyuruh umatnya untuk mengamalkan praktek perjudian dan minuman keras. Semua agama ingin agar umatnya melakukan dan berlomba-lomba mengerjakan kebaikan. Mereka yang mengaku tidak beragama sekalipun bersetuju terhadap anggapan bahawa perjudian suatu penyakit sosial yang harus dihindarkan.

Penulis belum pernah menemukan suatu kajian tentang kecenderungan masyarakat Malaysia terhadap praktek perjudian samada 4-D, Jackpot, Toto, loteri kebajikan atau apa sahaja jenis perjudian. Secara mata kasar (masih perlu dibuktikan secara ilmiah) kecenderungan terhadap perjudian sangat tinggi di Malaysia amnya bahkan di Sandakan khasnya di mana setiap hari kedai 4-D akan penuh dengan peminat-peminatnya.

James C.Coleman, dalam Abnormal Psychology and Modern Life, melukiskan tingkahlaku orang yang sudah kecanduan dalam perjudian:

Walaupun ia menyadari bahawa kemungkinan akan menerima kekalahan besar dan walaupun kenyataannya ia tidak pernah atau jarang sekali mengulangi suksesnya yang terdahulu, pencandu judi akan tetap berjudi dengan penuh semangat. Untuk meneruskan judinya ia sering menghabiskan simpanannya, mengabaikan keluarganya, tidak membayar pinjaman dan sanggup meminjam dari kawan atau syarikat yang memberi pinjaman. Akhirnya ia menulis cek tendang, rasuah atau cara-cara ilegal untuk mendapatkan wang serta merasa yakin bahawa suatu hari nanti nasibnya akan berubah dan ia dapat membayar kembali apa yang sudah diambilnya.

 

Penyelidikan lain yang dilakukan oleh Rosten menunjukkan bahawa umumnya penderita penyakit judi mudah tersinggung, cenderung marah dan terasing dari kawan-kawanya. Walhasil orang yang terlibat judi tidak dapat mengendalikan akal sehat dan kehilangan rasa malunya. Sementara itu secara mental, perjudian mendidik mentaliti jalan short-cut , mematikan kreativiti dan memasyarakatkan mimpi yang tak terbatas. Dalam beberapa sistem sosial, perjudian adalah alat untuk memindahkan kekayaan orang miskin kepada orang kaya dalam waktu yang cepat. Oleh yang demikian perjudian melebarkan jurang /gap antara yang kaya dan miskin, menimbulkan konflik dan akhirnya mendorong timbulnya masalah sosial yang disintegrasi.

 

Vandalisme

Vandalisme ialah suatu perilaku yang merosakkan harta benda awam dengan sengaja seperti merosakkan dan membakar pondok telefon, mebinasakan tandas awam, menconteng dinding bangunan , memecahkan lampu jalan, mengubah papan tanda jalan, membaling bas dan banyak lagi. Pengerusi Ahli Jawatankuasa Anti Vandalisme Dewan Bandaraya Kuala Lumpur merangkap Ahli Jawatankuasa Penasihat DBKL, Datuk Lee Lam Thye mengkategorikan vandalisme kepada 3 bahagian iaitu vandalisme perlakuan, vandalisme dendam dan vandalisme conteng. Golongan yang pertama ialah mereka yang terdiri dari penagih dadah, kutu rayau dan penjaga kereta haram. Golongan kedua ialah mereka yang merasa tidak puas hati dengan seseorang dan pihak-pihak tertentu, kebanyakan golongan remaja yang ingin lari dari dunia yang "sempit" dan ingin bebas tanpa batasan. Golongan ketiga ialah mereka yang tidak punya tujuan yang jelas dalam kehidupannya yang kadang-kadang melakukan salahlaku tanpa sebab.

Mengikut laporan suku tahun DBKL , Jabatan Pengangkutan Bandar kerugian kira-kira RM400,00 termasuk kos penyelenggaraan. Syarikat Telekom Malaysia sepanjang tahun 1996 kerugian sekitar RM90,000. Sementara itu Syarikat Uniphone Sdn.Bhd., menanggung kerugian lebih RM2 juta setahun apabila telefon awam yang disediakan menjadi mangsa vandalisme. Sepanjang tahun 1995 sebanyak 2,607 kes vandalisme dikesan. Sejumlah 186 daripadanya membabitkan kutu rayau, 104 kes penjaga kereta haram dan 2,317 kes melibatkan penagih dadah. Tahun 1996 3,875 kes vandalisme dilaporkan dan ia dianggap serius yang melibatkan kerugian melebihi RM300 juta dilaporkan di seluruh negara dan 80 % daripadanya berlaku di Kuala Lumpur (2,830 kes)dan Selangor.

Kes-kes vandalisme besar yang dilaporkan kepada polis juga berlaku di negeri lain seperti kawasan utara (Kedah, Pulau Pinang dan Perlis) 80 kes, Perak 65 kes, Johor 396 kes dan kawasan Selatan (Melaka dan Negeri Sembilan) 79 kes, kawasan Timur (Kelantan dan Terengganu) hanya 5 kes, Pahang 27 kes, Sabah 16 kes dan Sarawak 214 kes.

Sementara kes-kes vandalisme kecil yang dilaporkan di seluruh negara terdapat 47,841 kes, Kuala Lumpur dan Selangor sahaja tercatat 9,336 kes. Kes-kes vandalisme kecil yang tidak dilaporkan kepada pihak polis tercatat sebanyak 13,605 kes di Kawasan Utara, Perak 231 kes, Johor 1,542 kes, Kawasan Selatan 374 kes, Kawasan Timur 1,361, Pahang 5,566 kes, Sarawak 1,231 kes dan Sabah sebanyak 14,594 kes. Vandalisme adalah suatu "penyakit sosial" yang telah membudaya dalam masyarakat kita hari ini, selepas 39 tahun merdeka, sepatutnya perkara ini sudah tidak berlaku lagi di saat Malaysia memasuki era internet, multi-media dan teknologi maklumat yang canggih.Bersediakan bangsa kita untuk memasuki era ini, mengubah paradigma dan menganjak minda?!!!

 

Penderaan

Satu lagi masalah sosial yang semakin menjadi-jadi ialah kes penderaan . Data/statistik 6 tahun terakhir di bawah ini cukup menjelaskan kepada kita tentang nasib bayi atau kanak-kanak di Malaysia:

 

JUMLAH KES PENDERAAN KANAK-KANAK (1989-1995)
Sumber : Jabatan Kebajikan Masyarakat Malaysia
Negeri 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995  
Johor 16 25 75 115 134 127 134 (58)
Kedah 6 11 10 12 15 15 21 (31)
Kelantan 1 3 5 8 1 6 7 (0)
Melaka 14 33 29 33 73 47 73 (25)
N.Sembilan 5 21 24 31 16 54 74 (58)
Pahang 5 6 12 4 24 29 24 (25)
Perak 19 52 62 66 77 86 131 (40)
Perlis 3 2 4 1 3 7 8 (6)
P.Pinang 31 29 33 30 62 57 72 (81)
Selangor 50 120 356 245 269 213 246 (129)
Terengganu - 1 12 14 24 17 21 (15)
W.P.K.L. 126 208 348 293 386 211 306 (165)
W/PLabuan - - - - - - - (2)
JUMLAH 276 511 970 852 1,084 871 1,117 (635)
 

(Angka dalam kurungan ialah perangkaan yang terkumpul sehingga Ogos 1996).

 

Sumber: Berita Harian 19 November 1996

 

Kes penderaan kana-kanak cukup banyak dibicarakan di mass media bahkan hampir setiap hari kita dengar dan lihat di seluruh Malaysia. Penderaan isteri oleh suami nampaknya kurang dibicarakan padahal kes ini sangat erat kaitannya dengan gejala sosial. Menurut kajian yang dijalankan oleh Prof.Madya Dr Rohany Nasir pensyarah UKM, punca keganasan rumahtangga ini erat kaitannya dengan faktor ekonomi, dadah dan alkohol, cemburu, seks, suami ada wanita lain, masalah dengan ipar , suami penjudi dan lain-lain. Pada tahun 1995 sahaja terjadi sekitar 1049 kes keganasan rumahtangga dengan taburan mengikut negeri sebagaimana berikut:

 

PERANGKAAN KES KEGANASAN 
RUMAH TANGGA 1995
Negeri Jumlah Jumlah  

kes Tanggapan

Perlis 

Kedah 

Pulau Pinang 

Perak 

Selangor 

Kuala Lumpur 

Negeri Sembilan 

Melaka 

Johor 

Pahang 

Terengganu 

Kelantan 

Sabah 

Sarawak

-
50
82
34
761
295
112
11
23
5
1
5
14
16
-
-
-
2
-
2
-
1
3
-
-
-
-
-
 
Jumlah 
1409
8
 

 

Sumber: Ibu Pejabat Polis Bukit Aman

Dalam Majalah Jelita keluaran Ogos 1996

 

Daripada 1409 kes di atas 548 kes dari kalangan orang Melayu, 339 Cina , 456 India dan 66 lain-lain. Demikianlah beberapa kes yang boleh kita dapati di sekeliling kita yang semakin membimbangkan.

 

 

 

Kaedah Pembenterasan

Ada sebuah aliran psikologi yang digolongkan pada psikologi Humanistik yang disebut sebagai Logoterapi yang membahas karakteristik kewujudan (eksistensi) manusia dengan makna hidup (the meaning of life) sebagai tema pokok. Logoterapi didasari oleh falsafah hidup (weltanchauung) dan wawasan mengenai manusia yang mengakui adanya dimensi spiritual di samping dimensi biologi, dimensi psikologi dan dimensi sosial pada kehidupan manusia. Sehubungan dengan itu karakteristik eksistensi manusia menurut pandangan logoterapi adalah : Kerohanian (Spirituality), Kebebasan (Freedom) dan Tanggungjawab (Responsibility).

Logoterapi secara khusus dapat diamalkan untuk membantu mereka yang mengalami kekecewaan dan kehampaan hidup (mungkin bohjan, bohsia, vandalisme), gangguan kejiwaan yang bersumber dari sengketa nilai-nilai dan hati nurani (seperti kes penderaan, rogol) juga membantu individu menemukan sendiri makna hidupnya.

Menurut penulis, gejala sosial yang kita alami sekarang ini kekurangan ketiga-tiga aspek tersebut. Seorang yang terkena penyakit psikosis dan neurosis sehingga bersikap anti-sosial sebenarnya adalah seorang yang kekeringan unsur spiritualiti atau kerohanian yang merupakan sumber daya kekuatan insan. Sehingga pada akhirnya mereka kehilangan makna hidup sedangkan bagi kita umat beragama, kehidupan ini sangat "meaning full" dalam keadaan bagaimanapun termasuk dalam penderitaan sekalipun dan unsur ini harus ditanamkan mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara. Di sinilah kekuatan individu itu untuk menghadapi berbagai cabaran dan penderitaan hidup. Di Malaysia dan di Sabah khasnya sarana dan pra-sarana telahpun disediakan oleh pihak kerajaan atau bukan kerajaan (NGO) untuk memberi kebebasan setiap individu mengisi makna hidupnya. Rakan Muda atau Rakan Masjid merupakan program remaja / belia yang sangat berfaedah. Sebenarnya kaedah sudah ada tapi masalahnya sejauh mana program ini dilaksanakan dan mendapat sambutan?

Bagi umat Islam, kekuatan iman mempengaruhi tingkahlaku sosialnya. Iman dan amal merupakan dua hal yang saling berkait rapat. Anak muda atau belia yang banyak menimbulkan masalah sosial dewasa ini perlu memantapkan keimanannya untuk membentuk konsep diri yang betul . Apakah yang dimaksudkan dengan konsep diri? Menurut Anita Taylor dalam Communicating , mengatakan bahawa konsep diri adalah "semua yang anda fikirkan dan anda rasakan tentang diri anda, seluruh kompleks kepercayaan dan sikap tentang anda yang anda pegang teguh" Konsep ini menentukan tingkahlaku anda. Misalnya seorang yang memandang dirinya sebagai orang yang selalu gagal dalam hidup. Biasanya kalau usahanya hampir berjaya ia akan dipukul kegagalan yang tak terduga, Para psikiatri menyebut orang seperti ini sebagai masokis - orang-orang yang cenderung menyiksa diri dan merancang keadaan sehingga akhirnya ia gagal. Dengan demikian ia memperteguh konsep dirinya sebagai orang yang gagal dengan menciptakan kegagalan.

Menurut Gordon W.Allport ada dua macam cara beragama : yang ekstrinsik dan yang intrinsik. Cara beragama yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu utuk dimanfaatkan dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live, agama digunakan untuk motif-motif tertentu seperti keperluan akan status, rasa aman atau harga diri. Ia puasa, shalat, naik Haji dan sebagainya tapi hanya dalam bentuk luaran sahaja. Kata Allport cara beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental dan sebenarnya cara beragama seperti ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang sebaliknya kebencian, dengki, dendam, fitnah dan sebagainya.

Cara kedua, instrinsik yang dianggap dasar untuk kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat , agama dipandang sebagai comprehensive commitment dan driving integrating motive, yang mengatur seluruh hidup seseorang. Hanya dengan cara inilah akan melahirkan kehidupan sosial yang penuh kasih sayang.

Untuk para remaja tidak salah kita bagi kebebasan untuk melahirkan kreativitinya sesuai dengan bidangnya masing-masing tetapi pada sisi yang lain mereka harus menampilkan aspek kerohanian, kebebasan dan tanggungjawab dan sebagaimana yang penulis singgung di atas Dengan demikian apa yang mereka lakukan di latarbelakangi dengan konsep diri yang betul. Tidak seperti kes vandalisme yang membuat sesuatu tanpa tujuan yang betul. Siapapun tidak hanya remaja, harus melakukan sesuatu dengan unsur kerohanian yang membawanya kepada makna hidup, kebebasan untuk menentukan sikap dan kehendak yang harus dilakukan secara bertanggungjawab.

 

Sandakan

Jun 1997.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bibliografi

 

 

Lauer, Robert H., Socials Problem and the Quality of Life, Dubuque: Wm.C.Brown, 1978.

 

Millet, Kate, "Prostitution : A Quartet of Female Voices", dalam V.Gornick dan B.K. Moran,

Women in Sexist Society , New York: Mentor, 1971.

 

William, Federick, The Communications Revolution, Beverly Hills: sage 1982.

 

Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif, Bandung: Penerbit Mizan, 1995, cet.ke-VII

 

Zakiah Daradjat, Pembinaan Remaja, Jakarta: Bulan Bintang, 1982, cet.ke-IV

 

Sidi Gazalba, Modernisasi Dalam Persoalan, Bagaimana Sikap Islam, Jakarta; Bulan Bintang,

1973.

Hana Djumhana Bustaman, Agama dan Psikologi, Dengan Logoterapi sebagai fokus telaah,

Jakarta: yayasan Wakaf Paramadina, Serie KKA 24/TahunII/1988

 

Berita Harian, 19 November 1996, m/s 1-5

 

Utusan Malaysia, 24 Mac 1997 m/s 16 , 10 April 1997, m/s 23 dan 20 April 1997 m/s 21

 

Mingguan Malaysia, 6 April 1997 m/s 21-20, 20 April 1997 m/s 20-21 dan 8 Jun 1997 m/s 20-21

 

Majalah Jelita keluaran Ogos 1996, m/s 88 - 89

 

Majalah Jelita Keluaran September 1996 m/s 76 - 81