Make your own free website on Tripod.com
 

 

KEPRIBADIAN WANITA SOLEHAH
DAN CABARAN MASA KINI
 
OLEH:
DRS.HARUN HJ.SARAIL
MAKTAB PERGURUAN SANDAKAN
SABAH.
 
 
Kertas Kerja ini disampaikan dalam Kursus Keperibadian Wanita Solehah Dalam Islam
anjuran
Badan Wanita Usia Bahagian Sandakan
di Masjid Daerah Sandakan
pada 31 Mei 1997 hingga 1 Jun 1997

 

 

MUKADDIMAH

 

Masalah Sosial Hari ini merupakan masalah yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat kerana masalah sosial dan budaya merupakan "pengalaman langsung" yang dapat diamati, dinikmati, dirasai dan dialami dalam masyarakat itu sendiri. Oleh kerana masalah sosial merupakan masalah masyarakat maka dengan sendirinya juga menjadi fokus perhatian mana-mana negara di dunia ini. Mengabaikan masalah sosial tanpa penyelesaiannya maka tunggulah saat kehancuran sebuah negara itu sebagaimana yang kita nampak pada hari ini.

Dalam konteks kursus "kewanitaan" pada hari ini maka relevansinya dapat kita lihat pada peranan wanita itu sendiri sebagai sebahagian dari anggota masyarakat . Bukankah "an-nisa' 'Imaadul Bilad?". Begitu besarnya peranan wanita sehingga kehancuran dan keteguhan sesebuah negara juga boleh ditentukan oleh citra wanita yang ada di dalamnya. Kertas kerja ini akan cuba membahas masalah sosial dan kaitannya dengan peranan wanita itu sendiri dalam kehidupan sosial.

 

Latar belakang sosial masyarakat Sabah (Sandakan).

Arus modernisasi secara besar-besaran yang melanda dunia pada hari ini juga mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat Sandakan khasnya. Dengan demikian terjadilah perubahan secara besar-besaran melanda setiap aspek kehidupan kita, pada saat ini manusia mempunyai gaya hidup yang sama, dunia semakin kecil, informasi terbuka luas. apa yang berlaku di dunia sebelah Barat dapat kita rasakan dan kita nikmati di dunia sebelah Timur. Inilah apa yang disebut oleh John Naisbitt dan Patricia Aburdance dalam Megatrends 2000 sebagai globalisasi yang digambarkan sebagai "manusia mempunyai gaya hidup yang sama, dunia tanpa batas atau global village."

Perubahan sosial dan budaya yang melanda masyarakat Sabah akibat dari arus modernisasi telah meresap ke dalam kehidupan kita yang bukan sahaja dapat kita saksikan secara mata kasar (materi) tapi juga telah meresap ke dalam aspek mental dan spiritual masyarakat kita pada umumnya dan yang paling ketara ialah di kalangan remaja khususnya.

Konsep kemodernanan kini disalahertikan. Bagi mereka apa sahaja yang datang dari dunia Barat merupakan lambang kemajuan alias kemodernan tetapi apa yang datang dari dunia sebelah Timur dianggap sebagai kampungan alias kemunduran. Bagaimana "image" modern yang umum kita temukan dalam anggapan masyarakat kita?

Kemodernan selalu diidentikkan dengan Barat sehingga modernisasi bagi mereka adalah westernisasi. Tepat sekali apa yang digambarkan oleh Sidi Gazalba dalam bukunya "Modernisasi Dalam Persoalan, Bagaimana Sikap Islam?". Dari segi sosial masyarakat sekarang berfahamkan individualisme. Mereka hidup bernafsi-nafsi. Hubungan dalam keluargapun semakin rapuh, anak-anak dan orang tua memilih cara hidup sendiri. Dalam konteks keagamaanpun masyarakat sekarang pada dasarnya mengaku beragama tetapi dalam praktek kehidupannya nampaknya kebanyakan kita berfaham agnotismus iaitu suatu kepercayaan "percaya tidak kepada Tuhan, tidak percayapun tidak, beragama tidak, tidak beragamapun tidak". Banyak orang yang mengaku Islam tetapi dalam perilaku kehidupannya langsung tidak mencerminkan keislamannya, bahkan sangat memalukan kemurnian Islam.

Penyakit sosial yang nampaknya makin bermaharajalela ialah pergaulan bebas. Pergaulan bebas di kalangan remaja menimbulkan dampak yang luar biasa sehingga merusak tatanan nilai masyarakat dan keagamaan itu sendiri. Banyak terjadi hamil sebelum nikah yang akhirnya berlakulah tragedi pembuangan bayi (lihat artikel dalam lampiran), kenakalan remaja, melawan orang tua dan lain sebagainya. Semuanya itu antara lain diakibatkan oleh budaya Barat yang mendapat tempat promosi di mass media cetak maupun elektronik.

Fashion misalnya sangat cepat mempengaruhi kehidupan masyarakat kita.

Sekarang ini fesyen pakaian terkini yang up to date bukan yang out of date ada di kota-kota besar di dunia seperti New York, Milan dan Paris. Para remaja kita gemar meniru. Apabila TV menayangkan rancangan Fashion File pada hari ini maka keesokkan harinya fesyen tersebut banyak kita jumpai dipakai oleh remaja kita di Wisma Sandakan bahkan oleh penjual sayur di Pasar Sim-Sim. Begitu juga dengan dunia hiburan yang terbuka luas tanpa "sensor" yang mempesona dan menggelisahkan, suatu dunia entertainment yang tak dapat dielakkan. Perkembangan terkini adalah degan masukkan dunia "internet" ke rumah kita maka pengaruh negatif semakin susah dikawal kalau tidak diperhatikan.

 

WANITA DAN MASALAH SOSIAL

Wanita Kosmetik

Bukanlah artis atau aktris kalau tanpa kosmetik dan memang kosmetik hampir-hampir absolute harus melekat melalui seluruh tubuh wanita.Terutama wanita yang profesinya bergoyang-goyang yang mempamerkan fasyen terbaru yang dipanggil sebagai peragawati, biduanita, pop, rap, disko, bracke-dance, pengiklan atau wanita promosi yang sanggup menyerahkan seluruh badannya untuk digambar dan dipamerkan di media cetak warna-warni. Itulah wanita kosmetik, wanita iklan yang mewarnai kehidupan glamour yang gemerlapan di alam semesta ini dengan bayaran yang sangat mahal. Lalu siapa yang menjadi penontonnya? Kanak-kanak, belia, remaja, dewasa bahkan datuk dan nenek yang akhirnya dijadikan sebagai "figure", pujaan dan idaman hati.

Kalau kita renungkan mereka yang kosmetik ini sesunguhnya telah menjual harga diri atau kehormatan diri dengan harga yang murah. Mereka telah menjadikan dirinya sebagai komiditi yang diperdagangkan. Mereka tak sedar dirinya hampir-hampir tak berharga di hadapan Allah SWT dan para MalaikatNya. Lalu siapa yang ingin membela dan mengembalikan mereka menjadi perempuan yang berwatak ummahatul muslimin.

Business Without Women is Nothing

 

Pada zaman mutakhir ini banyak wanita yang bertugas sebagai pelayan di Bar atau Kelab Malam, pelayan di supermarket dengan gaya berjalan, berpakaian bahkan gaya makan yang sudah dirancang untuk menarik setiap pelanggan. Bahkan di mana-mana saja kita temukan arena business tak akan lengkap tanpa promosi sang wanita.Business akan sepi, sunyi senyap tanpa mempamerkan seorang figure bernama wanita . Nampaknya eksploitasi kaum wanita semakin maju. Lalu siapa yang akan membela nasib wanita daripada diperdagangkan dan menjadi al-maratussolihah yang di bawah tapak kakinya terdapat syurga.

Wanita Penjamu Selera

Tak mengherankan bila kita dengar, baca dan lihat makin meraja lelanya prostitusi atau pelacuran atau perzinahan. Di Barat atau di Timur sama saja, dibandar besar maupun di bandar kecil. Menurut hasil penyelidikan, kajian dan studi yang diekspose di suratkhabar, buletin atau majalah dan lain-lain di dunia ini memang lebih dikenal wanita pelacur daripada lelaki pelacur. Hal ini terjadi kerana kehidupan manusia di bumi ini masih didominasi oleh lelaki. Lalu siapa yang mahu membela mereka? Bukankah an-nisa 'Imaadul Bilad?

Di sini gadis modern kembali menghadapi dilema. Di samping membeikan emansipasi dunia modern juga menampilkan wanita sebagai objek seksual. Mereka dipamerkan untuk menarik pembeli. Mereka diminta tersenyum untuk menambah jumlah jualan. Mereka ditelanjangi untuk menghiasi iklan. Mereka bukan sahaja bersemangat membeli benda-benda kosmetik, pakaian mewah, tetapi juga berusaha bersikap sedapat mungkin menarik pasangan lawan jenisnya.. Bagi wanita muslimah dilema ii tidak ada. Ia akan meningkatkan keimanannya dan memelihara kehormatannya. Kalau Allah menghendaki ia dapat memilih jodoh yang diidamkanna, jika tidak ia dapat mencurahkan cinta kasihnya kepada Tuhan, Allah swt. Yang Rahim dan Rahman.

Banyak masalah sosial hari ini melibatkan kaum wanita sehingga wanita dianggap sebagai makhluk kelas dua. Sedangkan Islam telah mengangkat darjat wanita setinggi-tingginya. Muhammad Qutb dalam bukunya Salah Faham Terhadap Islam menggambarkan tentang hak wanita yang diakui Islam:

"Seandainya wanita menginginkan taraf kemanusiaan yang sama dengan kaum lelaki maka hak persamaan itu telah diberikan oleh Islam kepada mereka, baik dari segi teori maupun praktis, di depan undang-undang. Seandainya kaum wanita menginginkan kebebesan ekonomi dan kebebasan berhubungan langsung dengan masyarakat maka hak-hak kebebasan seperti itu telah diakui Islam, malah Islam merupakan agama yang pertama mengakui hak-hak itu. Seandainya kaum wanita mengingkan hak untuk belajar, maka hak itu bukan saja diberikan Islam malah Islam telah menjadikannya suatu tugas wajib atas mereka. Seandainya kaum wanita tidak mau dikahwin tanpa izin dia dan menuntut hak untuk melamar suami yang disukainya, seandainya mereka menuntutdiberi layanan yang baik selama mereka menjalankan tugas-tugas yang wajar senbagai isteri dan menuntut hak bercerai apabila mereka diperlakukan buruk maka seluruh hak itu bukan saja telah diberikan dan dijanim Islam kepada kaum wanita malah Islam telah mewajibkan hal-hal itu atas kaum lelaki. Seandainya kaum wanita menginginkan hak bekerja di luar rumah maka hak itu juga telah diizinkan Islam."

 

Islam adalah agama yang selalu menuntut perubahan sosial ke arah yang lebih baik. Masalah sosial yang berlaku pada hari ini adalah akibat perilaku kehidupan yang keluar dari landasan yang telah digariskan oleh Islam. Oleh sebab itu masalah sosial hari ini tidak akan selesai seandainya masyarakat Islam kita menjauhkan diri dari ajaran agama sendiri.

 

Mau Ke Mana Wanita !

Masalah-masalah sosial yang semakin parah ini menuntut kaum wanita berperanan aktif untuk membantu menangani dan mengurangkan masalah sosial ini kalaupun tidak menghapuskannya sama sekali.

Maka dalam hal ini kewajipan pertama "amar ma'ruf nahi mungkar" meminta wanita Islam agar berpartisipasi dalam melakukan kritikan sosial, membetulkan yang salah, memperbaiki yang kurang dan meluruskan yang bengkok. Ia dapat dimulai dari diri sendiri, suaminya, keluarganya, tetangganya dan masyarakat sekitarnya. Seorang wanita Islam tidak dipandang baik bila ia tidak ambil peduli terhadap masyarakat sekitarnya. Menyuruh ma'ruf termasuk bukan sahaja menyebarkan kesalehan dan ibadah ritual tetapi menyuruh orang meningkatkan gizi makanan, meningkatkan ilmu pengetahuan mereka dan membantu mereka mewujudkan dirinya seperti yang dicita-citakannya.

Melarang mungkar bererti menghindarkan masyarakat dari pengaruh-pengaruh negatif yang merusak kualiti hidup mereka - material dan spiritual, emosional dan intelektual, individual dan sosial. Menerangakn tentang yang halal dan haram meliputi usaha-usaha penyebaran ajaran Islam, usaha-usaha untuk memperkenalkan masyarakat padasyariat Islam. Dalam sejarah Islam peranan wanita dalam memelihara dan melanjutkan syariat Islam ini telah banyak dibicarakan.

Kewajipan yang kedua ialah membebaskan manusia dari beban kehidupan dan melepaskan mereka dari belenggu yang memasung kebebasan mereka, kerana itu seorang wanita diminta agar peka terhadap penderitaan di sekitarnya. Ia harus tampil membela mereka yang lemah dan tertindas, melindungi kelompok dhu'afa, menentang kezaliman dan perkosaan atas hak-hak asasi manusia. Paling tidak ia harus memperhatikan nasib wanita-wanita lain yang telah penulis singgung di awal artikel in. Islam mengingatkan kaum wanita bahawa perjuangan mereka belum selesai sebelum usaha menindas kaum wanita terbela. Janganlah menjadi permaisuri di istana, tinggal di pulau terpencil, puas dengan dirinya dan mengabaikan kesengsaraan orang di sekitarnya.

 

 

Sandakan, 29hb Mei 1997