Make your own free website on Tripod.com
 
BUSANA MUSLIMAH
Satu Tinjauan Psikologi Sosial
Oleh
Harun Hj.Sarail
 
 
 

Hai Nabi , katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:"Hendaklah mereka menghulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka" , yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak diganggu dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

(Q.S 33:59)

 

 

Ayat di atas menjelaskan bahawa salah satu hikmah memakai busana atau pakaian Muslimah ialah " supaya lebih mudah diketahui sehingga tidak diganggu". Kata Yu'rafna bererti diketahui, dikenal, dipersepsi, tanggapan - ini berhubungan dengan persepsi sosial. Fa la yu'dzain -sehingga tidak diganggu - menunjukkan kesan tingkahlaku yang wujud sebagai akibat dari tanggapan atau persepsi yang sebelumnya. Catatan pinggir ini akan cuba menjelaskan bagaimana pakaian muslimah mempengaruhi persepsi sosial.

Secara singkat, persepsi adalah proses menyimpulkan informasi, menafsirkan pesan atau memperoleh makna. Bila seorang pelatih lelaki melihat senyuman di bibir seorang pelatih wanita dan lelaki tersebut menafsirkannya sebagai sambutan yang hangat, maka pelatih lelaki tersebut sebenarnya sedang melakukan persepsi. Hal tersebut (maksud penulis persepsi) juga berlaku kepada Pensyarah, Ketua Jabatan, Pengetua atau pada diri sendiri.Istilah terakhir ini juga disebut sebagai konsep diri. Semua aspek-aspek yang penulis sebutkan di atas sebenarnya adalah sebagai objek sosial yang dijadikan persepsi sosial.

 

Busana Muslimah dan Konsep Diri

 

Kita mulai dengan pengaruh pakaian muslimah pada pembentukan konsep diri. "Konsep diri" menurut Anita taylor "adalah semua yang ada fikirkan dan anda rasakan tentang diri anda, seluruh kompleks kepercayaan dan sikap tentang anda yang anda pegang teguh." Konsep diri menentukan tingkah laku anda.Kalau seseorang yang memandang dirinya sebagai orang yang selalu gagal maka segala usahanya akan menemui kegagalan. Kalau seseorang yang menganggap dirinya tidak mampu dan tidak sanggup menyelesaikan sesuatu kerja itu maka ia akan tidak selesai. Para psikiater menyebut orang seperti ini masokis - orang yang cenderung menyiksa dirinya dan menciptakan keadaan untuk menemui kegagalan. Orang yang seperti ini ingin "setia pada dirinya " untuk mempertegas konsep dirinya sebagai orang yang gagal dengan menciptakan kegagalan.

Menurut Kefgen dan Touchie-Specht, pakaian mempunyai 3 fungsi. Pertama:Deferensiasi, dengan pakaian orang membezakan dirinya, kumpulannya atau golongannya dari orang lain. Pakaian memberikan identiti - memperteguhkan konsep diri. Kumpulan yang ingin dikenali sebagai Jemaah Tablig ia akan cuba menciptakan identitinya melalui pakaian ala Tablig (berjubah, berserban dan bercelana panjang) atau Arqam (berjubah panjang dan berseban tebal) atau ABIM (berbaju Melayu, seluar panjang biasa dan tidak bersongkok). Bahkan kumpulan remaja dan belia dewasa ini menegaskan identitinya - yang sebetulnya makin kabur - dengan memakai pakaian yang aneh-aneh untuk membezakan dengan golongan tua misalnya.

Pakaian Muslimah memberikan identiti keislaman, ia memberikan citra diri yang stabil. Ia mencerminkan tekad untuk berkata: "Isyhadu bi anna muslimun!" . Seorang muslimah dengan jilbab atau tudungnya ingin menunjukkan kepada dunia bahawa ia menolak seluruh sistem jahiliah dan ingin hidup dalam sistem Islami. Kerana itu selembar kain kerudung yang menutupi rambut dan lehernya telah menjadi simbol commitment pada Islam.

Kedua, Sikap, pakaian muslimah mendorong pemakainya untuk bersikap sesuai dengan citra diri Muslimah. Dengan memakai uniform golongan tertentu maka ia telah melepaskan haknya untuk bertindak bebas kerana terikat dengan etika golonganya. Seorang polis yang berpakaian uniform akan merasa tingkahlakunya berbeza ketika ia berpakaian biasa. Seorang "ustazah" yang menanggalkan kain dan menggantikannya dengan "blue-jeans" dan "T-Shirt" akan merasa perubahan sikap. Bahkan seorang "tablig" harus menanggalkan pakaian tablignya untuk memasuki panggung Cathay atau Capitol untuk tidak merusak citra "pakaian sucinya" .

Ketiga,Emosi, pakaian juga mempunyai fungsi emosional. Pakaian mencerminkan emosi pemakainya dan pada saat yang sama, mempengaruhi emosi orang lain.Ketika seorang wanita berpakaian serba mini maka seorang lelaki akan melepaskan gelora emosinya (baca:nafsu!) Dalam hubunganya dengan busana muslimah wanita yang memakainya akan menjaga perilakunya sesuai dengan pemakai pakaian muslimah. Ia tidak akan melakukan sexual harassment , ia tidak akan berani berbuat tak senonoh - paling-paling "gangguan" kecil seperti ucapan "assalaimualaikum" yang dilontarkan secara main-main. Inilah barangkali yang dimaksudkan Tuhan dengan "sehingga mereka tidak diganggu" (Q.S. 33:54).

 

Busana Muslimah dan Persepsi Interpersonal

 

Bila kita berjumpa dengan orang lain, kita akan mengkategorikan orang itu dalam satu kategori yang terdapat dalam laci memori kita. Kita akan segera mengelompokkannya sebagai pelajar, pelatih, pensyarah, ustaz atau ustazah, orang Bugis, Bajau, Sungai, Berunai, orang Kelantan, Kedah, Filipina dan lain sebagainya. Semua itu kita boleh kenali berdasarkan percakapan, wajah, cara berpakaian , cara berjalan dan lain sebagainya.

Cara manusia berpakaian erat kaitannya dengan sikap atau tingkahlaku bahkan selalunya manusia menilai orang lain melalui cara berpalaiannya. Pakaian menyampaikan pesan. Pakaian sudah terlihat sebelum suara terdengar. Jenis pakaian tertentu melahirkan makna tertentu. Kupiah putih menunjukkan haji, tali leher golongan profesional/pentadbir, pakai songkok dan janggut ustaz, ninja-turtle kontraktor dan lain sebagainya. Dengan pakaian muslimah akan mengkelaskan dirinya sebagai seorang taat kepada ajaran Islam.

Pakaian muslimah mempunyai fungsi sebagai penegas identiti. Dengan pakaian itu, seorang Muslimah mengidentifikasikan dirinya dengan ajaran-ajaran Islam. Kerana itu ia akan terdorong untuk bersikap sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hubungan interpersonal busana muslimah akan menyebabkan orang lain mempersepsi pemakainya sebagai wanita muslimah dan akan memperlakukannya seperti itu pula. Dalam bahasa al-Quran , pakaian Muslimah dipakai "supaya dikenal" dan "sehingga mereka tidak diganggu".

 

Harun Hj.Sarail

Maktab Perguruan Sandakan

29 Jun 1997

 

* Makalah ini disampaikan dalam ceramah khas minggu Orientasi Pelatih Baru  Maktab Perguruan Sandakan pada 30 Jun 1997, jam 2.00 - 4.00 petang di Surau Maktab .